Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun Itu
buat Agam Wispi
Tuhanku, komandanku, Engkau, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking
di luar kamar
malam hanya menghafal
lolong langit anjing –
pergilah dari kamp, dari kamp,
pergilah dari harap yang tersisa
seperti sekam,
berangkatlah dari kawat duri yang sabar,
dari Revolusi,
dari percobaan sebesar ini
Tuhanku, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking,
tinggalkan setasiun
ke salju dan danau, cantumkan cahaya Baikal
di malam yang sebentar,
dan sematkan sekilas bulan yang runcing
seperti leontin
Sampai pada lanskap ini tak ada lagi yang baka,
tak ada yang beku
sebeku titahMu, mungkin
sebeku namaMu.
Tuhanku, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking.
1996-1997
Untuk Frida Kahlo
Frida Kahlo menulis dalam catatan hariannya: "Hidup yang diam, pemberi dunia, apa yang paling penting ialah tiada harap. "Di sana disebutnya juga fajar, pagi, rekan-rekan merah, ruang besar biru, daun-daun di tangan, burung yang gaduh...
Apakah yang kita mengerti sebenarnya, tadi: kesederhanaan lagu tentang nasib, atau arus tak sadar pada tinta, darah dalam dalam dawat, deretan kata-kata murung? Apa penanda, apa petanda?
Frida tak pernah menjawab. Berhari-hari yang nampak adalah lelaki, tamu-tamu, yang berdatangan, melalui beranda Rumah Biru, menyapanya, duduk-duduk, minum teh, mencicipi kue, dan berceloteh dan melucu, sambil berdiskusi tentang tuhan yang mereka ingkari
dan kedatangan Trotsky.
Mereka berkata, "Tidak, Frida, kau tak apa-apa."
Tapi di alis itu...
di alismu langit berkabung
dengan jerit hitam
dua burung
di ragamu tiang patah
di kamar narsoke, ampul tertebar:
sisa sakit dan sejarah
tapi kijang yang tak menjerit di hutan
pada luka lembing penghabisan
adalah seorang perempuan
uluhati yang tercerabut
tapi terbang, menjemput Maut
adalah seorang perempuan
Kemudian akan datang lusa: dari Cayougan orang-orang akan pulang, dan akan datang pula orang lain. Ada yang telah berangkat mengurus revolusi atau kembali menenteng tas dan kertas-kertas - manifesto yang kehilangan bunyi. Tapi semua berkata, "Tidak, Frida, kau, kita,
juga Diego Riviera, telah berusaha untuk setia, tapi kita bukan apa-apa lagi. Dunia sudah tak seperti dulu."
Bukan apa-apa...
tapi di matamu kaulihat
piramid-piramid sakit
mencari air kaktus
pada pucat langit
lalu kaulukiskan airmatamu,
seperti mutiara dan
putih cuka
di tembikar kulitmu
Di atasnya para santo
dan wajah Diego: praba dan cahaya
yang membakar kekal
mimpi Meksiko
Di ruang Meksiko itu, dengan gaun putih Tehuana, Frida menghentikan kursi rodanya. Kamar berubah suhu, tapi hidup, seperti dulu, adalah kini yang berganti-ganti. Kekekalan - yang telah mengalami semua, dan akan menyaksikan semua - tak ada. Palet yang memamerkan luka, paras Judas, rangka dari kertas, buket kembang lavender yang tertahan di tangan: elemen waktu yang berakhir setiap hari, setiap kali.
Terkadang ia tergoda juga untuk lupa: dilukisnya korsase putih yang tetap bersih dari Noguchi ( di dada seorang perempuan, di Manhatan, yang jatuh dari gedung-gedung, dengan raut cemerlang, bunuh diri)
Apakah mati sebenarnya? Konon di tempat tidurnya - sebelum orang mengangkatnya ke api kremasi - ada seorang yang datang dan mencium parasnya, penghabisan kali, "Frida, kau adalah ketakjuban kepada harum brendi, senyum di percakapan dan ranum pisang dalam sajian
makan malam. Kau tergetar kepada apa yang sebentar."
Barangkali mati adalah transformasi, perjalanan ramarama yang sedih yang menghilang ke arah roh: keabadian yang tak tahu telah berubah lazuardi.
"Apa yang akan kulakukan tanpa yang absurd dan yang sementara?" Benar, begitulah ia pernah bertanya.
1993-1994
Tahun pun Turun Membuka Sayapnya
ke luas-jauh benua-benua
Laut membias: warna biru langit tua
Zaman menderas: manusia tetap setia
Kita di sini ngungun berdiri, membangun abad ini:
“Adakah sorga akan kemari?”
Lampu-lampu padam dan malam buta
Tapi manusia setia
1963
Kabut
Siapakah yang tegak di kabut ini
Atau Tuhan, atau kelam:
Bisik-bisik lembut yang sesekali
Mengusap wajahnya tertahan-tahan
Kepada siapakah kabut ini
Telah turun perlahan-lahan:
Kepada pak tua, atau kami
Kepada kerja atau sawah sepi ditinggalkan.
1963
Expatriate
Putra Surgawi
yang damai, terlalu damai
ketika bumi padaku melambai
Detik-detik bening
memutih tengah malam
ketika lembar-lembar asing
terlepas dari buku harian
Dan esoknya terbukalah gapura:
pagi tumbuh dalam kabut yang itu juga
dan aku pergi
dengan senyum usia yang sunyi
Langkah akan bergegas antara phonan lengang
Bersama baying-bayang unggas, bersama awan
Sementara arus hari
Menyusup-nyusup indra ini
(Adakah yang lebih tak pasti
selain tanah-kelahiran
yang ditinggalkan pergi
anak tersayang)
1962
Lagu Pekerja Malam
Di sayup-sayup embun
Antara dinamo menderam
Pantun demi pantun
Lagu pekerja malam
Lagu padat damai
Lagu tak terucapkan
Jika dua pun usai
Tangan yang hitam, tangan lelaki
Lengan melogam berpercik api
Dan batu pun retak di lagu serak:
Majulah jalan, majulah setapak
Nada akan terulang-ulang
Dan lampu putih pasi:
Panjang, alangkah panjang
Dini hari, o, dini hari!
Lagu pekerja malam
Lagu tiang-tiang besi
Lagu tak teralahkan
Memintas sepi
1962
Tidak ada komentar:
Posting Komentar